Belajar bahasa ternyata tidak segampang apa yang saya kira selama ini. Sebagai warga negara Indonesia, saya pikir, saya telah menguasai bahasa Indonesia. Demikian pula, karena pernah mengajar bahasa Inggris selama beberapa tahun, saya pikir saya telah menguasai bahasa Inggris. Akan tetapi, saudara-saudara, saya salah. Saya tidak benar-benar menguasai kedua bahasa yang sering saya pakai itu.

Mungkin karena terlalu sering kita memakai bahasa itu dalam kehidupan sehari-hari membuat kita mengabaikan beberapa kesalahan-kesalahan kecil yang timbul. Well, tak ada yang sempurna ~ nobody is perfect. Saya sadari, bahwa kesalahan-kesalahan kecil (seperti posisi huruf yang tertukar, atau huruf yang hilang) mungkin bisa diabaikan jika tidak berpotensi menimbulkan salah pengertian atau sejauh ide kita tersampaikan dan dimengerti orang yang membaca atau mendengarnya. Itu wajar. Akan tetapi, kesalahan itu tidak bisa ditoleransi jika berpotensi menimbulkan ambiguitas atau kesalahan gramatikal fatal (terutama dalam bahasa Inggris dan bahasa lainnya yang memiliki aturan ketat dalam hal gramatik, bahasa Indonesia sendiri tidak memiliki aturan yang ‘ketat’ sehingga ambiguitas lebih sering terjadi dan dibenarkan…)

Beberapa contoh yang pernah saya temui, dan menurut saya cukup fatal adalah sebagai berikut:

1. Pernah dalam status Bukuwajah a.k.a. Facebook teman saya tertulis (kurang lebih) seperti ini:

“Jangan pernah men-just orang lain karena pada akhirnya orang lain akan men-just kita”

Sebuah kesulitan yang dialami ketika kita belajar bahasa Inggris adalah perbedaan bentuk penulisan dan pengucapan. Mungkin teman di atas sering mendengar kata dengan bunyi “jas” yang sering digunakan dalam fungsi di atas namun tidak terlalu ambil pusing untuk mencari tahu bagaimana ‘bentuk’ kata tersebut dalam bentuk penulisan. Beberapa orang mungkin dapat mengerti bahwa yang dimaksudkan adalah kata ‘judge’ yang memiliki bunyi yang hampir sama. Akan tetapi jiika ditinjau dari segi arti kata, akan terjadi pengertian yang aneh.

2. Sering saya temui tulisan “Your welcome” sebagai balasan dari kata “Thank you”.

3. Never judge the book by it’s cover.

Sepintas lalu, mungkin tidak ada yang salah dengan tulisan di atas. Namun jika Anda jeli, maka akan terlihat kesalahan gramatik di sini yang membuat kalimat itu menjadi aneh. It’s merupakan bentuk singkat dari it is atau it has dan jika dipakai dalam kalimat di atas, akan menimbulkan pengertian yang aneh atau tidak memenuhi aturan gramatik.

4. ‘Ala bisa karena biasa’ atau ‘alah bisa karena biasa’ ?

Mana sih yang benar? Ini kebingungan yang saya alami sendiri. Jika dicari melalui mesin pencari semacam google atau yahoo, mungkin Anda akan menemukan bahwa keduanya juga dipakai dan ‘dibenarkan’. Akan tetapi, jika ditinjau dari segi pengertian kata, kata ‘alah’ lebih cocok dipakai sebagai bagian dari peribahasa itu.

5. Habit atau Habbit ?

Hal ini diceritakan oleh teman saya, Mr. Perfect. Waktu itu dia diundang sebagai pembicara dengan tema “mengubah kebiasaan buruk” dan terkejutlah dia ketika tiba di lokasi menemukan kata “HABBIT” terpampang dengan gagahnya.

6. “Mendengar musik sambel main game”

Tidak ada yang salah kan? Tapi coba ditinjau arti kata ‘sambel’ atau ‘sambal’ atau ‘sambil’. Artinya bisa berlainan kan?

7. Penggunaan kata ‘kita’ dan ‘kami’ (pernah saya tulis dalam blog beberapa waktu lalu mengenai kesalahan penggunaan kedua kata itu)

Sebenarnya, masih banyak contoh kesalahan-kesalahan kecil-namun-fatal (model penulisan ini menyerap aturan penulisan dalam bahasa Inggris ketika kita ingin menggunakan noun untuk menggantikan fungsi adjective) yang kita temui di dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjelekkan orang-orang yang pernah melakukan kesalahan di atas, tetapi lebih ditujukan sebagai sebuah media pembelajaran. Orang-orang yang berhasil adalah orang yang belajar dari kesalahan, bukan? Saya sendiri akan merasa senang jika teman-teman bisa memberitahukan kesalahan yang timbul dalam tulisan ini (jika ada yang menemukan).

Mari kita sama-sama belajar dari kesalahan yang pernah kita lakukan sehingga tidak terjadi pengulangan kesalahan yang sama di kemudian hari. Sesuai dengan peribahasa “Keledai tidak akan jatuh pada lubang yang sama dua kali”, saya yakin kita pasti bisa berubah menjadi lebih baik lagi.

Sekedar berlatih, silahkan meninjau kalimat-kalimat berikut:

Tanya: “Buku siapakah ini?”

Jawab: “Saya punya…”

Ditunggu komentarnya ya…

Comments No Comments »

Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kata “prostitusi”?

Perasaan jijik dan kotor?

Wanita-wanita dengan dandanan menor dan pakaian serba kekurangan bahan?

Bapak-bapak (dan juga ibu-ibu) genit dengan kumis tebal melintang?

Atau justru perasaan kasihan dan simpati?

Mari hapus pemikiran itu sekarang. Apa? Tidak bisa dihapus? Maka lupakanlah.

Baiklah, sambil terus membaca, aku akan mencoba menyampaikan kejadian di balik pengangkatan topik ini.

Semuanya berawal dari percakapan tetanggaku (tidak sengaja kudengar, soalnya suaranya keras dan kamar kami hanya dipisahkan oleh selembar kayu tripleks tipis). Wanita itu berbicara dengan seorang yang saya kira adalah pelanggannya (atau paling tidak pelanggan di tempatnya bekerja). Sepertinya mereka sedang membahas harga booking-membooking. Well , dari sana saya jadi tahu tentang “harga pasaran”.

Kemudian, tadi pagi, ketika chatting dengan salah seorang teman, sebut saja namanya Gendut, dia memberitahukan diriku bahwa dia sedang tidak ada kerjaan (dia bekerja, cuma sedang tidak ada yang bisa dikerjakan hari ini) dan sedang mencari khang-thau (apa ya, istilah bahasa Indonesia-nya? Intinya, mencari sumber pemasukan) biar bisa banyak duit. Kemudian, iseng-iseng saya menyarankan dirinya untuk menjual diri saja. Secara, menurut pandangan umum, itu termasuk jenis kegiatan yang paling menyenangkan. Bagaimana tidak? Waktu kerja tidak lama, mendapatkan kesenangan, uang yang dihasilkan juga termasuk banyak. Aku pun memberitahukan harga yang aku dengar semalam. Gendut hanya bisa tertawa senang mendengar jumlahnya. Kemudian, Gendut memintaku untuk menyarankan pekerjaan yang lebih halal.

Lalu entah dari mana, datang sebuah jawaban (menurut saya ini jujur) “Eh, itu pekerjaan halal loh, tidak ada unsur tipu-menipu di sini. Semua transaksi jelas dan transparan.”

Aneh ya? Saya sendiri juga merasa aneh dengan jawaban itu. Tapi, coba kita tilik lebih lanjut. Apa sih yang dimaksud dengan pekerjaan dan uang halal? Menurut saya sih, uang atau pekerjaan disebut halal jika dalam usaha melakukan atau memperolehnya tidak melibatkan unsur menipu. Semua kegiatan jelas atau sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan. Jadi dalam hal ini, saya merasa justru prostitusi adalah sebuah pekerjaan yang “lebih halal” daripada korupsi yang sama merajalelanya dengan klab-klab malam. Bahkan, untuk bertahan hidup, sejumlah klab harus “menyuap” pihak-pihak terkait – yang mana adalah sebuah kegiatan yang tidak halal.

Well, berbicara tentang prostitusi, sebenarnya itu tidak jauh berbeda dengan sejumlah usaha jasa lainnya, jika dilihat dari konteks kegiatan itu sendiri (maaf, saya tidak membahas ini dalam konteks nilai yang berlaku di masyarakat). Dalam hal ini, jasa yang dijual adalah layanan pemuas kesenangan, sepertihalnya orang-orang menonton bioskop, atau bermain di taman hiburan, atau berburu di hutan. Jika kita membayar sejumlah uang untuk memperoleh jasa, apakah ini sesuatu yang tidak halal? Lagian, menurut saya, hal ini cukup wajar mengingat manusia juga memiliki kebutuhan untuk memenuhi tuntutan seksual (ingat, Om Freud bilang pada dasarnya manusia dikendalikan oleh libido) dan manusia adalah makhluk ekonomis yang secara alamiah merespon terhadap kebutuhan ini. Ada permintaan maka ada penawaran. Jika ada orang yang membutuhkan layanan seksual dan ada orang yang menawarkan jasa itu, maka akan terjadi transaksi. Sama seperti ketika orang butuh berkomunikasi jarak jauh, ada layanan telekomunikasi atau ketika orang butuh untuk berpergian ke tempat lain, ada layanan transportasi. Sederhana.

Bahkan, saya pernah membaca bahwa di luar negeri (saya tidak tahu pastinya, mungkin Australia), dibutuhkan semacam “surat bekerja” bagi mereka yang ingin berprofesi sebagai pramuria. Dengan demikian, akan lebih mudah diatur dan hal-hal yang tidak diinginkan dapat dicegah.Selain itu, “keberadaan” mereka di dalam masyarakat jadinya lebih “diterima”, tidak jauh berbeda dengan sopir truk, operator, tukang kebun dan lain sebagainya.

Dalam tulisan ini, sebenarnya saya ingin mengajak Anda sekalian untuk tidak berpikir bahwa halal tidaknya sebuah pekerjaan bukan dinilai dari nilai sosial, tetapi lebih pada prosesnya – bahwa tidak melibatkan unsur penipuan dan pembohongan dan pembodohan. Itu saja.

Comments No Comments »

Belakangan ini sepertinya aku sering mendengar isu-isu yang berkaitan dengan sindir-menyindir dan singgung-menyinggung.

Bukti:

1. Herr AS, guruku di les bahasa jerman, tiba-tiba membahas tentang mengapa orang Indonesia mudah tersinggung. Konon, beliau sedang menulis buku mengenai topik itu.

2. Hari minggu (18 Oktober 2009), aku mendapat oplah Kompas gratis di pameran buku yang aku hadiri. Di dalamnya terdapat artikel dengan judul Menyindir yang ditulis oleh Samuel Mulia (http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/18/03280698/menyindir). Entah mengapa, ketika aku sedang berada di pesawat menuju kota kelahiranku, artikel itu yang menarik perhatianku.

3. Hari ini, temanku tersinggung oleh kata-kataku. Padahal kata-kata itu selalu aku ucapkan. Well, sekedar untuk mengingatkan dirinya akan kesalahan yang selalu diulang-ulangnya. Selama ini, baik-baik saja. Tapi entah mengapa hari ini dia merasa sangat tersinggung….Biarkan saja.

Well, keinginan untuk menulis tentang hal ini telah ada sejak lama. (sorry, bukan karena dirimu yang tersinggung ya….)

Sering kali kita merasa jengah ketika orang lain mengatakan sesuatu yang “benar”. Maksud saya begini, kita tidak perlu merasa tersinggung jika apa yang dikatakan orang lain itu bukan sebuah kebenaran bukan? Contohnya, jika kita “benar-benar” tidak mencuri, maka ketika ada orang yang mengatakan kita pencuri, kita akan fine-fine saja bukan? Toh, kalau memang benar kita tidak mencuri, tidak akan ada bukti yang bisa menjerumuskan kita, kan?

Akan tetapi, lain halnya jika kita “diam-diam” mencuri. Ketika orang lain mengatakan kita pencuri, telinga akan memerah dan hati akah terasa panas meskipun mungkin orang itu tidak benar-benar tahu bahwa kita “pernah” mencuri.

Memang, sebuah sindiran (yang sering kali adalah sebuah kebenaran) sangat susah kita terima karena membeberkan hal-hal yang ingin kita sembunyikan. Mengutip tulisan Samuel,

Sindiran dipakai agar manusia yang disindir menjadi ngeh kalau disindir dengan tujuan akhirnya manusia itu kembali ke jalan yang benar. Supaya tidak terlalu kasar menyindirnya, dipakailah cara lebih manusiawi, salah satunya dengan guyonan. Bahasa atau gerak yang mengundang tawa. Kalau manusia disindir, reaksinya hanya dua. Nrimo atau melawan. Kalau nrimo tak usah dibicarakan karena tak mengundang friksi. Nah, kalau marah, akan jadi perkara.”

Mengapa marah? Karena merasa tersindir… mengapa tersindir? Karena ketahuan melakukan sesuatu. Mengapa takut ketahuan jika memang itu benar adanya dan ada bukti-buktinya? Karena tidak senang ketahuan melakukan sesuatu yang disukai dirinya namun tidak disukai orang lain.

Jujur saja, kadang-kadang saya suka heran melihat teman yang marah-marah karena pernyataan sepele. Maksud saya, jika kita tidak merasa melakukan itu semua, pada akhirnya akan ketahuan bahwa memang kita tidak pernah melakukannya bukan? Tapi sekarang, saya mengerti mengapa teman itu marah, karena penyataan itu benar adanya. Tidak heran, nasihat saya “Biarkan aja dibilang pencuri kalo kita tidak mencuri, ga usah marah-marah” tidak pernah digubris. Soalnya si teman benar mencuri dan tidak senang aksinya ketahuan…

Kemudian muncul pertanyaan berikutnya, jika itu benar adanya, bukankah seharusnya kita berterimakasih kepada orang itu? Paling tidak, kita diingatkan mengenai kekurangan kita, yang selama ini tertutup oleh ke-aku-an kita. Well, semua orang pasti merasa dirinya benar. Tapi itu terlalu subjektif, bukankah demikian? Saya sendiri, setuju dengan pendapat Samuel bahwa orang-orang di sekitar kita lah yang memiliki pandangan yang lebih objektif mengenai diri kita. Jujur, kita pasti lebih gampang membenarkan apa yang kita lakukan.

Yah, saya sendiri sedang belajar untuk bersikap jujur kepada orang lain. Jika dia memang salah, sebisa mungkin aku akan memberitahukan bahwa dia salah. Meskipun demikian, tidaklah gampang untuk memberitahukan bahwa orang itu salah. Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan. Takut tersinggung, beda usia, dan segala tetek bengek lainnya membuat penyampaian kebenaran tidak segampang yang terlihat.

ambil contoh, Seorang teman yang suka terlambat, sebut saja namanya Si Amir (siapa saja yang bernama Amir, harap tidak tersinggung. Jika cerita berikutnya menyinggung Anda, berarti cerita itu benar dan sudah saatnya Anda berbenah diri). Si Amir ini suka tidak tepat waktu. Janji ketemu jam 8, datangnya jam 9. Sampai-sampai teman-teman yang lain harus berbohong jika berjanji dengannya. Jika berjanji untuk berkumpul jam 7, sebaiknya beritahu si Amir kalau kita ketemu jam 6, supaya dia tiba jam 7. Begitu harapannya. Tapi bagaimana kenyataannya. Si Amir tetap saja datang jam 8.

Oh ya, aku teringat sebuah kesalahan yang dibenarkan. Kita cenderung meminta orang lain untuk memahami kita meskipun apa yang kita lakukan itu adalah sebuah kesalahan. Contoh kasus, pernah ada kejadian seorang teman marah-marah karena teman-teman yang lain datang terlambat. Jadi ceritanya, si teman, sebut saja namanya Monk, memimpin sebuah rapat yang rencananya dimulai jam 7 teng! Monk datang dan siap siaga jam 6.30. Eh, tunggu punya tunggu, tak seorang pun yang nongol hingga jam 8. Apa yang dilakukan Monk? dia marah, tentu saja, dan membatalkan rapat itu. Seminggu kemudian, diadakanlah rapat evaluasi. Monk dianggap emosian dan tidak pintar mengendalikan diri. Seharusnya Monk mengerti bahwa teman-teman yang lain jarang datang tepat waktu dan tidak membatalkan rapat begitu saja. Toh, Monk sudah lama mengenal mereka untuk tahu bahwa mereka tidak pernah tepat waktu dan tidak seharusnya marah-marah. Masuk akal kan?

Well, bagi saya, seharusnya teman-teman yang lain meminta maaf dan bukan meminta pengertian Monk terhadap keterlambatan mereka. Seharusnya mereka berusaha memperbaiki kesalahan yang telah lama diketahui ini. Sering kali kita meminta orang lain untuk memahami kesalahan yang kita lakukan tanpa pernah berpikir untuk memperbaiki diri……

Saya sendiri juga tidak luput dari kesalahan dan sering tersinggung. Seperti yang terjadi baru-baru ini, saya meminta bantuan teman untuk mengurus surat-surat. Menurut saya, itu adalah tugasnya sebagai staff. Tapi, kalimat terakhirnya membuat saya sedikit tersinggung. Dia mengatakan saya merepotkan dan saya tersinggung. Tapi, setelah saya pikir-pikir, mengapa harus tersinggung ya? Toh, saya tidak merepotkan. Saya hanya memintanya untuk melakukan apa yang seharusnya menjadi tugasnya. Dengan demikian, saya merasa lebih baik.

Intinya, saya merasa sebuah sindiran sebenarnya adalah cara untuk memberitahukan kebenaran, untuk membuka mata, untuk membuat orang lain “ngeh” terhadap kesalahan. Bisa jadi itu benar-benar membuka mata dan orang itu berubah, atau bisa jadi orang itu tidak senang karena merasa kesenangannya terusik…Sindiran memang sebuah pisau bermata dua. Tapi saya yakin, jika sindiran itu memang ditujukan untuk membuat orang lain lebih baik lagi, seharusnya dipertahankan.

Sindiran, pada awalnya mungkin terasa menyakitkan dan susah diterima. Tapi saya yakin, jika kita benar-benar mencerna dan mau berlaku jujur terhadap diri kita sendiri, sindiran bisa menjadi senjata untuk memacu kita menjadi lebih baik. Hemat saya, lebih baik merasa sakit namun hidup dalam kenyataan daripada hidup dalam kebohongan yang menyenangkan. Kejujuran dan Kenyataan memang pahit terasa bukan?

Sekali lagi, jika ada yang merasa tersindir oleh tulisan ini, berarti kesenangan anda tidak disenangi orang lain dan seyogianya Anda berubah… Tidak ada maksud menjelekkan dalam penulisan blog ini… Peace

Comments No Comments »

As I said in my previous blog titled FREAK!(http://j4ck-boy.blog.friendster.com/2009/09/freak/), you can find any type of person in Jakarta. It really suits its jargon in the TV ad: You Can Do Everything in Jakarta! And here comes the story.

It was Saturday. As usual, I woke up quite early that day and did my routine. Chatting, go online. I found nothing to write on that day. I spent the whole morning in front of my computer. Then I decided to take a shower. It was a hot morning and I need to do something to cool up myself.

So, I took up my clothes and toiletries. I went to the toilet. Oh ya, there are four occupants in the level I stay: me, a couple and a man. We share one toilet. It was around 11 am. I took my towel and I could hear the water flowing from the tap. Maybe, my neighbor was containing the cube. You know, we had had two times water cut due to the broken water pump. So, to have a full cube is always the best preventive act.

I put on my slippers and I walked, creating a flip-flap sound. Then I went to the toilet.

And…

“Sorry, sorry” I heard a shout from the door-opened toilet and saw the woman who stays next to my room with her spouse. I did not really know what she was doing. I could see the underwear was on her knee. Probably she was doing her business. Uh, you know.

Gee . It was a shame. I, with reflects, turned back and walked back to my room. What the hell was she thinking, doing her business without shutting the door of shared toilet???

Then I turned to my computer, telling my friend what had just happened. She said I should feel grateful as it was a present on the weekend. Was it?

Comments No Comments »

Laskar Pelangi…
Meraih Mimpi…
Coyote Ugly…
And many more…

Those are examples of stories about having a big dream, chasing the dream and making the dream into reality. Maybe most of you guys are impressed by the story, by the struggle and suffer walking on those gravel and rocky path of dream. And in the end, maybe you are touched by the success: the dreams come true!

Well, well, well…
Talking about having a dream, I do believe all of you have ever had such dreams. Maybe it sounds ridiculous now to have ever dreamt of having Elephant for pets, or piloting an airplane, or possessing super duper big mansion in a mountain. A friend of mine said that to have such a dream is naïve. It is, indeed.
But I prefer to say, having those kind of dream is honest. Because as we are growing older and older, we are starting to compromise with the environment. It’s true that we have to be realistic, but should we give up dream? Look at those who have reached their dreams. Will it be a touching and wonderful story if the characters give up their dreams? There will be no story at all.

There are a lot of sayings telling that the dreams that make the life colourful. Imagine, if The Wright Bros had never dreamt of flying like a bird, there would be no plane. Maybe I should say, everything we got now was started by a single stupid piece of dream. Nonsense,huh?

Then what was the problem is here? Most of the time, when we dream of something and share with the others, what do we get? A sarcastic laugh, an amazed-but-insulting look? Yes. But again, I think, in order to walk on that way is hard, though. Commitment and sacrifice has to be made. Maybe we have to argue with our parents, we have to leave our beloved friends and so on and so forth. No Pain No Gain. I do believe that if we are committed enough to fight and struggle from those things, then the dream will eventually be true. By that time, people’s sarcastic laugh will turn into admiring smile. In the end, the hard struggle will deserve it.

So, I should say, dare to dream is a start. Walking on it with commitment – includes sharing and learning- is just another step to take. Believe in your own strengths. Then show the world that YOU can be the character in those stories of the dreams come true.

Quoting John Lennon in his song “Imagine”:

You may say that I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one

Dream a dream and make it come true!

Comments No Comments »

Well, I don’t know exactly what to write today.

But there is an urge inside me telling me to write something.

So, let’s pick one topic : LOVE

Yuhuu, classic but unstoppable to discuss.

Yep, recently I came across several people who are (or at least been) affected by the love…

There is a saying that Love is so powerful and influencing so that the victim (ah, sounds too cruel) can be a totally different person. I think we have heard thousand of stories about this. Smart turns into dump, weak turns into strong, coward turns into brave, loser turns into hero and so on and so forth. It’s because of love, agree?

Recently I listened to the two songs written by a friend of mine. I was so amazed (I find no other words that suitable to describe my feeling) when I realized that the songs were written when he is in love. One is when he was in love and another one is when he lost his love.

In the first song, he tells about how the love changed his life. He was a different person since he found his love. He used to be shy, but a little open since then. He used to be skeptical, but much more optimistic since then. He left his dream just to be with his lover. He thought he had to memorialize the moments they have been through into a song. And there goes the song! Full of sweet memories as the love has light up his life.

Then the second song is quite desperate but I can still sense the spirit in it. Desperate, because it tells about the emptiness after the LOVE has gone. The cheerful days turns into misery. The sweet moments is now tasted sour. The sacrifice is now sounds meaningless. Giving spirit, because he is not the same person he used to be. The love has shaped him into a better person and no regret of meeting the love.

There comes another story

Another friend of mine consulted his problem to me. He loves a girl but not really sure whether the girl has the same feeling (to honest, he is afraid of rejection, I should say). I suggested him doing something like holding her hand and he asked me “why should I hold her hand?” (answer pleaseeeeee). Suddenly, he was not the man I used to know. He is humorous but turns into a serious person in front of her. He is optimistic but turns into a skeptical in front of her. He is talkative but speak little when he has to tell his feeling to his girl.

Well, my point of writing these stories is to tell you about how love can change people. Once you know love, you will never be the same. I guess, people who were in love before will agree with me. Happy are they who have love. Happy are they who have been in love.

So, have you been in love before?

Comments No Comments »

I think all of you have heard the saying “You have to treat others well”, “You have to have good behaviour” or “Try doing a lot of good deeds”

Yes. I think people all over the world-regardless the origin, race, nationality- will agree that being good or doing good deed is a very good way in living our lives. Treating other people well is also a good thing to consider (and to apply, of course). However, as we -human- apply the reciprocal law, we tend to give something in return when we receive something from the others. For example, if Mr. John Doe treat me a meal, I tend to treat him back next time, or if I help Mrs. Jean Doe carrying her shopping bag, she tends to help me when I need help in doing my homework, and so on. Ah, I mean, we tend to pass the good deed back to the doer.

Trying to be grateful of what I got, I see that my life is full of good deeds. I have a very nice family and parents, many good friends (they help me a lot, and some of them inspire me), good environment and places to live. However, sometimes I feel a little difficult to ‘pay’ them back. For example, Mr. Perfect who likes treating me a cup of coffee. I want to treat him a cup of coffee too. But, he never wants me to treat him a cup. It’s one example of how hard if we want to return the good deeds to the giver. Especially, the fact that usually, the giver(doer) has more things to share. They don’t really need the pay back.

Once I tried hard to pay back to the same person that gave me. It was not a successful try, to be honest. What to do then? I want to be one of them. I mean, I don’t want to be the one who is always being taken care by the others. I want to be like them too, give something (good ones, of course) to the others. After a lot of failures, I learn another thing. The good deeds can be passed to the others (not only to the giver). For example, instead of trying to treat Mr. Perfect a cup of coffee (which he can buy himself), I try to treat another friend who wants to drink a cup of coffee but find it hard to do so.

Another thing that I learn is, in fact, there are many ways to return the good deeds we receive. We don’t have to do the same thing towards the others. For example, if Mr. X give you a book, it’s not a must that you give him a book, too. You can give other things back. I have a lot of experience about this (which I am really thankful that I can be useful for the others). Mr. Judge - my old school fellas- often treat me a meal but seldom accept my treat. What to do then? Once we had a conversation and he told me he wanted to learn English (he often asks me the meaning of English words or how to say something in English) then I was happily offer myself to teach him. It’s my way to pay him back.

So, in conclusion, the essence of doing good deeds is not about give and take as sometimes the people do not expect the payback (even though some people expect the reciprocal effect). The art of doing good deed is to pass and share the good things to the others, so that it is a long chain of good deeds. If Mr. A is nice to Mr. B, then Mr. B need to be nice to Mr. C, and so on and so forth… You have to pass and spread the good things and make web chain instead of making a circle.

So, have you passed a good deed today?

Comments No Comments »

Once a friend of mine told me

“You’ll find many kind of people in Jakarta”

At that time I just nodded, but I now I know exactly how it goes.

…..

Today, as usual, I spent most of my afternoon in a donut&coffee shop. It is a nice place: cozy and there is a plug for charging my laptop, plus it gives free wi-fi for the customer. There are 2 levels. I prefer the second level because it’s more private. Not many people passing by.

I sat in front of a man. In his 30s, I guess.  I had to sit in front of him because it was the only place whose plug was unoccupied. As usual, I asked for permission and we had a short chit-chat. You know, just to melt down the situation. I was playing my game, wrote my stuffs and so on. I asked about the connection, he said it was fast. Then he asked me, “if we have wireless connection and open adult pages, can the virus get into our computer?”

I said,” wah, I don’t really know. But as long as I know, adult pages usually contain many viruses.”

He commented,” Yes, I know. If we connect using cable, the virus may get into your system through the cable. I wonder whether they can get into your system if you connect through wireless system.”

I said,” Well, I don’t know. better not try that if you don’t want your system to be attacked.”

Then, we stopped talking.

After 30 minutes, suddenly I heard a noise, similar to the ringtone of my phone. I checked my phone, no call or SMS. Then I continued my work. But the noise kept voicing. Then I tried to listen carefully. It’s like something from a film. I looked at the man in front of me, he is watching something (his hands are free). Then I thought, probably he is watching a cartoon (whose song I use as ringtone). I continued my work again.

But I could not concentrate as the noise kept haunting me. And now it’s not a music nor conversation. I tried to listen again, more carefully. And you know what? It was a moaning sound, to be exact, a girl is moaning, repeatedly. It reminded me of adult movie a.k.a PORN. Trying not to make careless judgment, I put my ear ready. It was still a moan. Then I looked at the glass (the man wore a pair of glasses) and saw a reflection of a naked man, up and down.

Gosh, he is WATCHING PORN! in PUBLIC AREA!!!

What the hell was he thinking when doing such kind of activity?

Then there came an understanding upon his question about viruses and adult pages. He was opening adult pages and tried to be preventive.

Oh, Man. Please do that at home.

(while writing this blog, I still heard the moan…I am thinking about lending him my earphone…)

Comments No Comments »

Awan-awan berarak, ada yang berukuran besar, ada yang berukuran kecil, namun tetap tidak beraturan. Semburat cahaya matahari menerobos gerombolan awan, membentuk garis-garis cahaya yang elok berwarna putih, seperti kabut. Di bawah kawasan awan itu, buih-buih putih berkejaran, berlomba menuju pinggiran, tidak berhenti. Di belakang mereka kerlap-kerlip cahaya yang dipantulkan air laut mempertegas garis cakrawala di kejauhan tak berujung. Suara deru ombak seolah menyanyikan lagu alam yang tak berakhir - monoton namun enak didengar- membawa perasaan damai dan tenang.

Pasir yang berwarna keabu-abuan basah dihantam air laut. Meski demikian, air dengan segera meresap ke dalam dan meninggalkan pasir padat yang digali oleh kepiting-kepiting putih kecil sebagai perlindungan diri dari pijakan kaki manusia yang lalu-lalang. Dalam jangka waktu yang tidak lama, gumpalan-gumpalan pasir berbentuk bola terbentuk mengelilingi lubang-lubang di atas pasir. Sebuah pola lingkaran alami terbentuk dengan lubang sebagai pusatnya, sungguh sedap dipandang mata.

Di atas garis ombak yang membubung, tampak beberapa titik menghitam, bergerak sesuai dengan irama ombak. Sesaat kemudian, titik-titik itu membentuk siluet manusia, yang meliuk-liuk lincah di atas papan selancar, menyusuri lekukan ombak. Gelombang yang pecah dibawah papan selucur dan siluet manusia yang menari-nari memperkaya suasana cakrawala di ujung sana.

Matahari masih malu-malu bersembunyi di balik gumpalan awan yang semakin lama semakin padat, seolah menentang matahari. Meski demikian, matahari masih mampu menunjukkan keberadaannya melalui sebuncah cahaya menyilaukan tak jauh dari batas cakrawala. Pantai yang tadinya tidak terlalu ramai sekarang telah dipadati oleh manusia-manusia yang berdatangan. Pria-wanita, tua-muda, putih, coklat, hitam, semua terpaku memandang ke arah cakrawala. Ada yang berdiri, ada yang duduk, ada yang berbaring malas, ada yang sesekali mengalihkan pandangan antara cakrawala dan bacaan di depannya, ada juga yang berlari-lari kecil. Cahaya yang tadi berwarna putih kini mulai terurai menjadi jingga. Matahari semakin turun ke bawah dan suasana menggelap. Langit mulai berubah warna: biru menjadi kelabu, namun tetap memerah pada ujung cakrawala. Matahari tak lagi berbentuk bulat sempurna, melainkan setengah lingkaran dengan beberapa bagian tertutup bayangan awan-awan kecil. Warna menyilaukan kini berubah menjadi jingga keemasan.

Ribuan pasang mata memandang ke arah yang sama: batas cakrawala, demi merekam peristiwa alam yang menakjubkan itu. Nun jauh di ujung sana, sang raja siang berpamitan memasuki peraduannya, sekarang yang tampak hanyalah sebagian tembereng kecil berwarna jingga. Semburat warna jingga, biru dan kelabu menghiasi bagian atas cakrawala sementara hijau kebiruan menghuni bagian bawahnya, menandakan sisa-sisa tugas sang raja siang. Ribuan mulut berdecak dan bergumam, menyatakan kekaguman akan peristiwa menakjubkan itu.

Beberapa saat kemudian, langit menggelap, menyisakan awan-awan kelabu yang menghitam. Sang raja telah pergi. Perlahan-lahan pantai menjadi lengang. Orang-orang yang sedari tadi terpaku selama beberapa menit yang penting demi mengantar kepergian sang raja, kini berjalan menuju arah jalan. Tugas mereka telah selesai. Decak kagum masih terdengar di beberapa tempat, dalam berbagai bahasa. Sejurus kemudian, gantian jalan-jalan dipenuhi orang-orang yang berjalan menuju tujuan masing-masing: penginapan, rumah makan, club. Pantai itu kini hanya diisi ombak-ombak yang menyanyikan lagu alam dalam kegelapan malam.

Comments No Comments »

Pipiku kembali dibasahi oleh air hangat yang mengalir seolah tak henti dari kedua bola mataku. Entah sudah berapa kali aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi menangisinya, tapi tetap saja, aku tak kuasa menahan terjangan air mata setiap kali aku melihatnya. Bukan hanya sosoknya, segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya: foto, gosip, suara dan segudang hal lainnya selalu membuat dadaku terasa sesak dan sakit. Uh, semua ini terasa sangat menyiksa.

Tanganku menyeka pipi yang masih basah oleh air mata. Aku melihat telapak tanganku yang basah, termenung. Merenungi kebodohanku selama ini dan ketidakmampuanku untuk melupakannya. Setiap kali aku berusaha untuk membuang semua kenangan tentangnya, ingatanku terhadapnya semakin menguat dan menyesakkan. Pernah, ketika aku sedang berada pada puncak kekesalan terhadapnya, aku membuang semua barang yang berkaitan dengannya. Foto, buku, dan boneka pemberiannya kulemparkan dengan penuh amarah ke tempat sampah. Surat-surat berisi rayuan dan kata-kata membangunnya segera menjadi karbon berwarna hitam. Aku berharap dapat segera melupakan semua rasa sakit yang ditorehkannya dalam setiap gurat nadiku. Tapi apa yang kudapat? Sebuah penyesalan.

Tiba-tiba saja sesak menyerang dadaku. Bukan sesak kebencian yang kurasakan beberapa menit yang lalu, namun sesak karena takut akan kehilangan dirinya dalam duniaku selamanya. Kukumpulkan sisa-sisa kenangan yang kini tak pantas lagi menghuni lemariku. Meskipun demikian, tetap saja kujejalkan dalam sebuah keranjang dan menaruhnya dalam lemari. Setelah itu, aku kembali memaki diriku. Bodoh, bodoh dan bodoh!

Pada dasarnya, diriku bukanlah seorang yang cengeng. Aku periang dan optimis, begitulah yang selalu kudengar dari orang-orang yang mengenalku. Bagiku, air mata adalah sesuatu yang berharga dan tak pantas disia-siakan begitu saja. Duniaku menyenangkan, aku memiliki orang tua yang pengertian, teman-teman yang menyenangkan dan lingkungan yang dinamis dan berwarna. Jadi, tidak ada alasan yang cukup berarti bagiku untuk menangis atau membiarkan datangnya penyesalan.

Kehadiran dirinya mengisi relung-relung kosong yang tak mampu dipenuhi oleh lingkunganku selama ini. Dirinya tidak menawarkan hal yang baru, namun terasa berbeda dengan yang kudapat selama ini dari lingkunganku. Dia mengajarkanku tentang hal-hal remeh temeh yang selama ini kuacuhkan sehingga menjadi sesuatu yang menarik dan pantas untuk dipikirkan dan dilaksanakan. Aku merasakan bimbingan dan sentuhan membangun darinya. Ah, aku merasa sebagai orang paling beruntung sedunia.

Sekali lagi, aku menyeka pipiku yang masih basah, berusaha menyeka pikiran bodoh itu. Dia telah pergi dan tak akan kembali. Tidak akan ada lagi dirinya dalam pikiranku dan lingkunganku. Kesadaran akan fakta itu seharusnya membuatku senang karena tidak lagi harus berurusan dengannya. Tapi apa? Dadaku terasa semakin sesak. Kenyataan bahwa dia tak akan ada lagi di sampingku membuatku sakit. Sakit, sesakit-sakitnya!

Tidak, tidak… Aku harus kuat. Aku harus mampu menghadapi semua ini dengan tegar. Aku berkata dengan penuh keyakinan kepada diriku sendiri. Keyakinan yang sebenarnya kuragukan karena hadirnya perasaan bodoh mendengar kalimat itu terucapkan untuk kesekian kalinya. Memandangi foto kusam dalam bingkai biru, pikiranku berkecamuk. Haruskah aku terus berjalan dan menghapusnya? Haruskah aku menoleh ke belakang? Haruskah aku menerimanya sebagai sebuah masa lalu?. Kupandangi lagi foto itu - untuk terakhir kalinya, aku janji- sambil menyentuh kaca bingkai dengan jari-jariku. Wajah-wajah tersenyum yang terekam kotak bercahaya itu kini tak terasa membahagiakan. Jejak-jejak jariku yang tercetak di kaca menambah muram suasana hatiku tatkala melihat foto itu.

Ya. Ini terakhir kali aku berjanji untuk melupakannya. Aku membungkus bingkai itu dengan kertas koran yang memang kusediakan sejak tadi. Kuletakkan bingkai yang kini berwarna abu-abu dengan garis-garis hitam kertas koran ke dalam bagian terdalam lemariku. Biarlah dia menjadi kenangan yang terkubur dalam gelap. Akhirnya, waktu jualah yang akan mengikis semua kenangan tentangnya. Biarlah sang waktu menyembuhkan semua luka-luka yang pernah kurasakan. Karena aku percaya, hanya sang waktu lah, yang selama ini menguatkanku. Aku tersenyum - akhirnya, aku tersenyum- memandangi lemari kosong di hadapanku. Bingkai foto tadi menjadi penghuni terakhir lemari kenangan tentangnya.

(dedicated to Secretary)

Comments No Comments »